“Emangnya kamu gak bisa sedikit menikmati hidup kayak
si X.” Komentar salah seorang teman melihat aktivitasku yang terbilang dini untuk
memikirkan skripsi.
“Karena sekarang waktuku untuk memperjuangkan hidup,
dan bukan menikmati hidup”. Jawabku spontan dengan sedikit tertawa. Temanku pun
membalasnya dengan sedikit tertawa. Sebenarnya, ini bukan hal yang patut
ditertawakan. Namun, aku tetap berusaha tertawa, setidaknya untuk menunjukkan
bahwa aku juga menikmati hidup.
Pembicaraan bersama temanku tentang kehidupan selasai
sampai disitu. Akan tetapi, aku masih terus memikirkan pertanyaannya.
“Aku pun ingin seperti si X.” Kataku dalam hati. Si X
bisa berlama-lama belajar di sini. Bahkan, dia bisa memiliki banyak waktu untuk
mengikuti exchange program dan menikmati hidupnya. Kadangkala, aku
memang menaruh iri pada teman seperti si X ini. Jangankan pada si X yang sudah
mampu ke luar negeri, pada temanku yang hanya baru bermimpi untuk dapat
mengikuti exchange program saja aku sudah iri. Karena jujur, aku bahkan
aku takut untu bermimpi. Tetapi, apakah benar aku tak menikmati hidup.
***
Beberapa kali aku melamun kembali, membayangkan jalan
kehidupanku yang mengantarkan aku hingga di sini. Memang banyak perjuangan.
Bagiku, bukan jalan mulus yang kulalui untuk sampai di sini. Kalau kalian tahu,
sudah tak terhitung berapa banyak air mata kesedihan dan haru yang menetes.
Namun, aku percaya bahwa semua orang pasti pernah
melakukan sebuah perjuangan untuk suatu hal, bahkan untuk sesuatu yang
sebelumnya tak pernah dimimpikan. Juga diriku.
Aku ingin terus belajar dan berjuang mewujudkan mimpi besarku.
Beberapa kali aku melamun kembali, aku sadar bahwa
jawaban spontanku tentang kehidupan itu salah. Mungkin memang benar, sekarang,
aku baru memperjuangkan hidup, namun bukan berarti aku tidak menikmati hidup.
Aku berjuang, dan aku menikmati perjuangan ini.
Terakhir di ceritaku kali ini, aku ingin berkata
bahwa aku sangat bersyukur dengan jalan kehidupanku yang dipercayakan oleh
Allah untuk kulalui. J
