Jika nama besar
Yang kau anggap bersinar
Berlarilah padanya
Berdirilah kukuh pada semu
Karena sampai sekarang
Niat itu masih redup termakan
Setiap malam, bibirku linu. Setelah sekian lama aku lepas dari belenggunya, kini ia datang kembali: sariawan. Aku tidak tahu kenapa begitu senangnya sariawan tumbuh di mulutku ini. Tak tanggung-tanggung, 5 sariawan bersarang. Mungkin semua orang telah hapal betul dengan gelagatku ketika terkena sariawan. Sedikit memicingkan mulut seperti tersenyum namun muka agak tertekan menahan sakit dengan gaya bicara terseret-seret (tidak jelas). Sudah bisa ditebak.
“Kamu sariawan ya” kata teman menyambut sapaku.
“Kok tahu?” jawabku layaknya menanggapi gombalan seperti pada banyak acara humor saat ini.
“Biasalah kamu, mau UTS”
Mungkin saja itu benar. Sudah sering aku mempresentasikan stresku dengan menampilkan bundaran-bundaran perih di mulut. Semakin banyak, mungkin merepresentasikan tingkat stress yang semakin tinggi. Entah ada tidak hipotesis ini secara ilmiah, tapi ini sudah cukup meyakinkan bagiku.
Ya, ini bukan UTS biasa. Ini UTS semester tiga. Semester tiga. Kata salah seorang informan, di akhir semester 2, semester 3 merupakan kuliah yang sebenarnya. Aku tidak tahu, dia informan terpercaya atau tidak namun aku percaya pada kenyataan. Keadaan yang simpang siur di semester tiga ini menjadikanku kalang kabut. Semester ini: materi baru dan kompleks, tugas banyak, 24 sks. Terakhir yan paling penting, target IP naik (atau setidaknya bertahan). Target ini sungguh sulit dan justru membebani langkahku menjalani kehidupan perkuliahan, membuat langkahku semakin mendayu-dayu.
Sering aku galau (hanya) karena IP. Sehabis kuis, sepulang ujian, aku dihantui bayang-bayang IP. Bahkan sering aku mengecek kembali proporsi penilaian yang tertera di silabus, hanya untuk menghitung kembali kemungkinan poin yang dapat aku peroleh dari kinerjaku di kelas. Entah keaktifan, kuis, UTS, maupun UAS. Sedemikian rupa. Lelah. Terkadang, aku cukup lelah dengan diriku sendiri. Terkadang pula, aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa menjaga 3 digit agar tetap bernilai. Lantas, di tengah kecemasanku, aku bertanya kepada mereka. Bayangku, jawaban mereka tentu, “ Gak sepenting itu, besok pas kerja kan gak cuma liat IP kamu, masih ada pengalaman organisas ata kejuaraan.” Itu justru jawaban yang menentramkan karena itu sedikit menenangkan meskipun pengalaman non-akademik masih sangat miskin. Tak apa, masih ada waktu untuk memperbaikinya dan aku rasa itu lebih mudah. Akan tetapi, pertanyaan yang aku lontarkan tidak mendapat sambutan jawaban seperti yang aku bayangkan.
“Pentinglah. IP tinggi aja belum tentu dapat pekerjaan apalagi IP rendah.” Jawaban dua kakak angkatan di waktu dan tempat yang berbeda dengan logat yang tak jauh berbeda.
Pernyataan yang menghujam. Hatiku dibuat lebih kacau. Dalam hati, aku bertanya kembali, benarkah aku menahan IP untuk sebuah pekerjaan? Rasanya, tak pernah aku berpikir sejauh itu. Lagipula, nasibku empat tahun setelah lulus telah hampir semuanya ditentukan karena aku harus menjalani kontrak kerja.
“Aku sih gak seambisius kamu (buat dapet IP tinggi),” komentar salah seorang teman disuatu kesempatan.
“Tapi, itu yang saat ini bisa aku banggakan,” responku begitu saja sembari membayangkan orang-orang hebat yang pernah ada dihidupku.
Kebanggaan. Mungkin itu kata kunci dari pertanyaanku selama ini. Bangga karena bisa menjadi mahasiswa (yang masih jarang di kampung halaman), apalagi di UGM. Bangga karena mempunyai IP tinggi dan “dianggap ada” karena itu. Tapi, inikah niat lurusku? Aku rasa bukan. Karena sebenarnya aku bodoh sekalipun berstatus IP tinggi.