Senyum Harmoni (1)

Pagi itu jelas berbeda. Aku berada di tempat yang sangat lain dari biasanya. Tempat yang kata orang penuh dengan modus kejahatan dan kerumitan hidup. Bahkan, tempat ini sering  disebut-sebut melebihi Ibu tiri kejahatannnya. Ya, Jakarta sang Ibu Kota. Bagi orang kampung sepertiku, sejumlah perkataan mengenai Jakarta kupercayai saja. Laik dis (Like this).

Ada misi penting atas kepergianku ke Jakarta kala itu, tentu bukan untuk mengadu nasib ataupun menjadi artis ibu kota. Misi yang kupunya cukup membanggakan: menerima beasiswa di Gedung Kemendiknas. Tentu, aku tak sendiri. Aku ditemani 4 mahasiswa lainnya serta 1 pendamping dari Universitas. Kami berbondong-bondong menuju Jakarta dari stasiun tugu Yogyakarta menggunakan kereta kelas bisnis.

Jakarta kala itu masih lengang. Waktu menunjukkan pukul 06.30. Dari stasiun pasar senen, kami bertolak menuju tempat acara via mobil bayaran yang setiap harinya mangkal di stasiun. Mobil yang terbilang tua itu melesat cepat menyalip mobil lain, mengejar traffic light agar tetap berwarna hijau, atau terkadang menerobos lampu merah jika memungkinkan. Tubuhku tak jarang melenggak lenggok mengikuti gerakan mobil saat berbelok maupun mengerem. Dalam hati aku berkata, “santai dong pak, kami yang ada acara aja santai kok.” Tapi, benar saja, Pak Sopir memang memang memiliki acara yang jauh lebih penting dari sebuah penerimaan beasiswa, tak lain tak bukan: mengantri rezeki (kembali) di stasiun.

Turun dari mobil, kami disambut oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi. Gedung-gedung itu seakan meyakinkanku bahwa kaki udik ini sedang menginjak di negeri impian para kawula desa: Jakarta. Kami segera masuk kompleks gedung Kemendiknas. Acara dimulai pukul 10.00. Sehingga, masih ada banyak waktu bagi kami untuk melakukan aktivitas pagi seperti mandi dan sarapan. Kami serempak melangkahkan kaki menuju masjid kemendiknas yang megah. Gedung itu memberikan satu harapan bagiku: semoga kamar mandinya semegah majidnya. Ya, aktvitas mandi dan teman-temannya kami lakukan di masjid tersebut. Kenyataannya, kamar mandi masjid memang terawat bagus, hanya sempit atau mungkin salah badanku yang lebar. Entahlah. 

Rahmatdi
20 Januari 2012
12:55

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.