Catatan Rahmatdi

Hanya bercerita, berharap didengar dan berharga

Semakin Habis


Masih kuarungi langit
Berbinar pada keindahan bintang
Kalau dapat seribu akan kuraih
Tapi
Langit pun berdebu
Dibalik sana mereka menunggu
Berharap ku segera pulang
Membawa bintang yang ia inginkan
Tapi
Ku ingin berlama di sini
sedikit lagi
Menikmati gemerlap bintang
Menyimpannya untukku
Tapi
Langit semakin berdebu
Rasanya tak ada lagi waktu
Untuk bintang-bintang lain
Hanya satu
Aku di sini untuk mereka

***

“Besok kalau kalian kuliah, gak usah jauh-jauh. Yogyakarta kan punya UGM yang jelas bagusnya.” Kata seorang guru ketika aku masih duduk di bangku SMP. Perkataannya sungguh meyakinkan, dibumbui dengan acungan jempol di akhir kalimat.
Tak ada yang meragukan pernyataan itu. Seluruh siswa diam tak berkomentar. Siapa mampu mengelak bahwa UGM adalah salah satu universitas tersohor di negeri ini. Namun, kala itu, aku ikut diam, menganggap remeh ajakan sang Guru. Bukan meremehkan UGM. Tapi, aku meremehkan diriku sendiri.
Ya, kala itu, saat aku masih berbangga mengenakan seragam warna biru putih, tak pernah terbesit sedikitpun untukku menlanjutkan “sekolah” hingga perguruan tinggi. Jangankan bermimpi kuliah di UGM, membayangkan untuk mendaftar kuliah di universitas swasta saja tidak. Aku hanya sanggup bermimpi untuk menlanjutkan sekolah hingga tingkat menengah kejuruan lalu segera bekerja. Bukankah itu mimpi yang terbilang besar?
***
Dan tak terasa waktuku sudah semakin habis.

Seharusnya, saat ini, aku telah lulus dari sekolah kejuruan dan juga membangun karir. Mungkin, seharusnya, aku telah bekerja menjadi staf IT di suatu perusahaan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Memang, dari berbagai pilihan jurusan di SMK, aku hanya tertarik pada jurusan yang berbau komputer. Tetapi, nyatanya, aku tak lulus SMK. Bahkan, aku belum bekerja. Lalu berlari kemana mimpi besarku?
Mungkin ini yang dinamakan jalan kehidupan. Banyak yang telah kulalui hingga aku sampai disini: Universitas Gadjah Mada. Jalan kehidupan juga membentukku menjadi pribadi pembelajar. Menjadi seorang “anak” yang ingin terus belajar.
Jujur saja, aku rasa pendidikan itu duniaku, dunia layaknya taman bermain. Mendapatkan hal baru, bekerjasama dengan banyak teman, dan juga berkompetisi.
“Hobimu apa Rahmatdi? Kuliah ya? Hahaha.” Seringkali teman-temanku mempertanyakan hobiku dan menebaknya sendiri lalu tertawa. Aku hanya ikut tertawa sembari berpikir hobiku yang sebenarnya. Kuliah tentu bukan hobi yang wajar. Tapi, sejatinya, aku pun tak hobi main bola layaknya teman-teman yang lain. Mungkin, hobiku membaca, bukankah itu hobi yang keren. Namun, akupun jarang membuka buku (di luar kegiatan kuliah). Berarti, “membaca” tak dapat digolongkan sebagai hobi.
Pada akhirnya, aku menyerah, mungkin memang benar kuliah merupakan hobiku. Lebih tepatnya, aku memang terlalu menyukai belajar.

Akan tetapi, tak terasa waktuku sudah semakin habis.

Aku harus kembali melalui jalan kehidupan tempat mimpi besarku berada: bekerja. Aku sudah tak mempunyai banyak waktu untuk “bermain-main” di dunia pendidikan. Sudah saatnya aku realistis. Di perjalananku menuju semester enam, aku sudah mulai memikirkan judul skripsi (yang belum juga di tangan). Seperti orang kebakaran jenggot, aku pergi ke perpustakaan, membuka jurnal online, hingga melamun di tengah mengendarai motor untuk mendapatkan tema serta judul skripsi. Yang aku pikirkan saat ini adalah cepat lulus dan segera bekerja.
***

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.